Tampilkan postingan dengan label Meranti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meranti. Tampilkan semua postingan

PAN Raih Kursi Terbanyak di DPRD Meranti

Selasa, 22 April 2014

Selat Panjang (Marwahriau.com)
Setelah menggelar pleno hingga Selasa (22/4) dinihari, akhirnya PAN memperoleh kursi terbanyak di DPRD Kepulauan Meranti untuk periode lima tahun mendatang. Untuk DPRD Meranti terdapat 30 kursi.
Perolehan suara berasal dari Dapil Meranti I (Tebingtinggi), Dapil Meranti II (Rangsang dan Tebingtinggi Timur), Dapil Meranti III (Tebingtinggi Barat, Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir) dan Dapil Meranti IV (Merbau, Pulau Merbau dan Tasik Putri Puyu).
Data yang diperoleh Tribun dari KPU Kepulauan Meranti, PAN meraih 5 kursi. Lalu Gerindra, PPP dan Demokrat meraih 4 kursi. Kemudian PDI-P, Golkar dan Hanura masing-masing meraih 3 kursi.
Sedangkan PKB meraih 2 kursi. Sedangkan PKS dan PBB masing-masing meraih 1 suara.
Proses rekap suara Pemilu Legislatif 2014 di KPU Kepulauan Meranti sempat hujan sanggahan dari para saksi. Sehingga proses pleno berlangsung hingga pukul 04.00 WIB.
Namun Ketua KPU Kepulauan Meranti, Yusli menyebut pleno berlangsung lancar.
Sumber : Tribun

Bupati Meranti Dorong Sinergi PMI, Diskes dan RSUD

Rabu, 18 Desember 2013

Selat Panjang (Marwahriau.com)
Bupati Kepulauan  Meranti, Drs. Irwan MSi
Tidak adanya Bank Darah di Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi masalah serius saat memberikan pelayanan medis kepada pasien darurat. 
Oleh karenanya, Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan MSi, mendorong sinergi lembaga PMI, Dinas Kesehatan dan RSUD untuk menanggulangi masalah tersebut.
''Saya akan mendorong PMI, Diskes, dan RSUD Selatpanjang untuk saling bersinergi dalam mengatasi ketersediaan darah yang sering tidak ada akibat belum adanya Bank Darah itu,'' ujar Bupati Irwan, baru-baru ini di Selatpanjang.
            Karena PMI Kabupaten Kepulauan Meranti belum memiliki Bank Darah, diakui Bupati dapat menghambat pelayanan medis, terutama saat adanya kebutuhan darah secara mendadak.
Setakat ini, PMI hanya memiliki data pendonor yang siap dipanggil bila dibutuhkan darahnya. Namun untuk menyimpan darah dalam jangka waktu tertentu tidak bisa dilakukan karena tempat penyimpanan darah (Bank Darah) belum tersedia.
''Kalau belum ada Bank Darah, minimal ada semacam instalasi darah sehingga bisa melayani pendonor rutin. Mungkin PMI juga perlu gencar lagi. Nanti kita koordinasikan ini semua. Dalam rangka ulang tahun daerah ini, mungkin kita juga akan mengadakan kegiatan donor darah,'' tambah Irwan. (hrc)

Pusat Bantu PAUD Meranti Rp1 Miliar

Kamis, 18 April 2013

Meranti (Marwah Riau)
Pemerintah pusat memberikan bantuan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah Kepulauan Meranti lebih dari Rp1 miliar. Alokasi tersebut diperuntukkan di berbagai sektor, mulai dengan membantu guru PAUD, mobiler dan saran parasarana lainnya yang diperluan untuk menunjang PAD di Kabupaten muda itu.
‘’Guru, sarana dan prasana berdasarkan yang kami ajukan ke pusat, Alhamdulillah kami dibantu dengan total Rp1 miliar lebih dari pusat. Ini untuk mendukung berjalannya PAUD di daerah kita yang tersebar di seluruh wilayah Kepulauan Meranti,’’ kata Kabid Pendidikan Informal Dinas Pendidikan Kepulauan Meranti Edi Juniawan MPd kepada wartawan belum lama ini di Selat Panjang.
Menurutnya, operasional PAUD menjadi kendala sendiri bagi Pemkab Meranti. Hal itu mengingat keterbatasan daerah dalam membantu pendanaan. Sebab dengan banyaknya keperluan pembangunan saat ini, Pemkab belum bisa mengalokasikan secara maksimal sesuai dengan keperluan PAUD itu sendiri.
‘’Makanya kami berupaya terus mengejar berbagai peluang dari berbagai sumber, baik dari Pemerintah Provinsi Riau maupun dari pemerintah pusat. Ini akan terus kami lakukan untuk memempercepat pembangunan pendidikan, khususnya PAUD,’’ terangnya. (rls)

Tanah Habis, Masyarakat Binasa

Minggu, 10 Maret 2013

Meranti (Marwah Riau)
Nasib anak-anak Suku Asli di Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya di Kepau Baru tergantung kebijakan pemerintah. 
Bahkan, kejadian tak memiliki tanah sebagai tapak rumah tak saja terjadi di Kepau Baru, akan tetapi di beberapa tempat lainnya,  seperti di Desa Kudap, Ransang, Tanjungkedabu dan Ransang Pesisir.
‘’Tak sedikit  anak cucu dan keluarga kami yang sampai sekarang masih menumpang hidup di tanah orang. Tapi tak semuanya, karena sebagian ada juga tanah, tapi warga kami lebih betah tinggal di tepian pantai,’’ kata  Ketua Ikatan Keluarga Besar Batin Suku Asli (IKBBSA) Kepulauan Meranti, Amir, kepada wartawan.  
Menurutnya, anak Suku Asli di Kepau Baru pada umumnya bekerja sebagai buruh dan petani kebun rumbia (sagu, red). 
Akan tetapi kebun  rumbia  yang mereka kerjakan pada umumnya bukan milik pribadi. 
‘’Kalaupun ada hanya beberapa orang saja,  selebihnya menjadi buruh di perkebunan perusahaan dan tauke-tauke yang memiliki kebun rumbia,’’ sebut Amir.
 Hidup menumpang di tanah tauke atau menumpang di tanah sendiri karena terjerat sistem ijon sudah lama terjadi.  
Diakui Amir tak memiliki tanah bagi saudara dan anak cucunya saat ini juga dipengaruhi karena Suku Asli suka berpindah-pindah. 
Namun sejak terbentuknya Kabupaten Kepulauan Meranti dan disentuh berbagai program akhirnya mereka menetap. 
Tapi tak semuanya bisa begitu, sebab mereka bisa saja pindah dari Pulau Tebingtinggi ke Pulau Ransang, Pulau Merbau atau Pulau Padang. 
‘’Berpindah karena mereka masih ada hubungan persaudaraan yang akhirnya tanah mereka tergadai. Sehingga saat mereka tiba ke kampung kembali tanah tak ada akhirnya menumpang di tanah orang untuk membangun rumah,’’ jelasnya.
Apalagi di Desa Kepau Baru, tanah-tanah dan hutan sudah menjadi milik perusahaan besar. Sedangkan di tepian pantai banyak kebun rumbia yang dimiliki para tauke. 
Diakuinya, dulu milik datuk atau nenek para saudaranya di kampung tersebut. Akan tetapi karena adanya sistim ijon atau pajak akhirnya tanah tersebut berpindah tangan ke tauke. 
Sistem ijon satu pihak sangat membantu masyarakat Suku Asli, akan tetapi satu pihak menguntungkan para tauke. Macam mana tak membantu masyarakat, karena ketika sangat memerlukan uang tauke bisa memberi  berapapun  diperlukan. 
‘’Tapi kita tak sadar, yang semula kita menggadaikan batang rumbia dan berujung pada penjualan tanah, karena uang yang dipinjamkan tak bisa dikembalikan, apalagi dengan sistem bunga yang sangat memberatkan masyarakat kami,’’ ucap Amir.
‘’Karena tak mau memiliki hutang berkepanjangan, akhirnya tanah dijual agar tak ada hutang. Jadi jangan heran kalau ada rumah di atas kebun orang lain, padahal kebun itu milik mereka sebelumnya,’’ kata Amir.
Sebagai Batin Suku Asli, Amir merasa sangat terpukul dengan keberadaan anak cucu dan saudaranya di Kepau Baru. Hanya saja dirinya belum bisa berbuat banyak. 
Bahkan dirinya baru melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Hanya saja keinginan dirinya agar pemerintah membuat program khusus agar suku-suku asli yang menyebar di sepanjang pesisir pantai, Tebingtinggi, Rangsang, Merbau dan Pulaupadang tak terus terpinggirkan. 
Salah satu harapan yang dia gantungkan yaitu agar pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti memberikan fasilitas terutama menyediakan lahan kepada suku-suku asli.  
Dengan adanya lahan sejengkal itu nantinya, kata Amir, bisalah Suku Asli bertahan hidup dan tak menumpang kepada tanah tauke yang lambat laun akan terusir. 
‘’Namanya numpang, tentu ketika orang perlu kita disuruh pindah,’’ jelas Amir.
Usulan dari masyarakat Kepau Baru berharap pemerintah melakukan koordinasi kepada pemilik tanah yang ada di desa tersebut. 
Terutama berharap pemilik tanah menghibahkan tanah agak 20 meter tepi jalan untuk para Suku Asli. 
Tapi menurut Amir, itu mungkin sangat berat bagi pemilik tanah. ‘’Tapi perlu diingat juga kalau tak ada Suku Asli tanah tersebut tentu akan menjadi belukar dan tak terurus,’’ ucapnya.
 Dengan situasi yang terjadi di Kepau Baru tersebut, Amir berharap pemerintah memberikan lahan per KK minimal 2 hektare. Dengan lahan segitu dirinya yakin orang-orang Suku Asli akan menjaga dan memeliharanya. 
‘’Saya jamin tanah itu tak akan dijual, asalkan mereka dilakukan pembinaan untuk membuat kebun,’’ lanjutnya.
 Berharap membuka lahan sendiri, menurutnya saat ini tak memungkinkan lagi. Pasalnya lahan atau hutan di Desa Kepau Baru hingga Telukbuntal sudah tergadai dalam artian sudah dimiliki perusahaan-perusahaan besar. 
‘’Kalau masyarakat mengambil atau membuka lahan, yakin kena lelah (dilarang, red) pakai parang oleh perusahaan,’’ kata Amir sambil tersenyum.
 Suku Asli hidupnya semakin terjepit. Apakah Suku Asli menggantungkan hidup dari laut maupun dari hutan. 
‘’Dulu di mana ditebar jaring dan melempar pancing di tepi laut pasti banyak ikan. Kalau sekarang sampah yang dapat. Kalau dulu dimana menahan jerat di situ didapatkan kancil dan babi, sekarang usah diharapkan. Hutan dah jadi ladang terang benderang, laut dah kotor tak berikan. Kalau hutan habis, habislah kehidupan kami,’’ keluh Amir lagi.
 Tapi harapan itu mungkin masih ada, jika saja pemerintah dan komunitas atau lembaga sosial mau memberikan perhatian serius terhadap para Suku Asli pemilik Pulau Tebingtinggi, Ransang, Merbau dan Pulau Padang. 
Diakui semua orang merekalah yang hidup dan besar di tepian selat sempit  itu selama ini. (rp)

Danrem 031 Wirabima Kunjungi Pulau Terluar Riau

Jumat, 18 Januari 2013

Meranti (Marwah Riau)
Danrem 031 Wirabima
Danrem 031 Wirabima Brigjen TNI Teguh Rahardjo mengunjungi salah satu pulau terluar di Provinsi Riau, yakni Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti yang berbatasan dengan Malaysia melalui Selat Melaka.
"Saya mendapat tugas penting untuk mengunjungi pulau terluar sebagai bentuk pengamanan di perbatasan," ujar Teguh Rahardjo di Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti, kemaren.
Dalam kunjungan resmi itu Danrem langsung didampingi oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti Irwan Nasir dan Dandim 0303 Bengkalis, Letkol Inf. Sukirman Sulaiman. Kunjungan itu terkait rencana pembentukan koramil persiapan di kawasan perbatasan.
"Kawasan perbatasan mesti mendapat perhatian lebih, karena bentuk kejahatan seperti penangkapan ilegal maupun yang lainnya sangat marak di daerah perbatasan," sebutnya yang baru bertugas di Riau selama tujuh bulan itu. (rls)

Rp17 Miliar dari Pusat untuk PNPM-MPd

Selasa, 15 Januari 2013

Meranti (Marwah Riau)
Ternyata Pemerintah Pusat memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keberhasilan Pemkab Kepulauan Meranti dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MPd). Tahun 2013 ini, Pemerintah Pusat mengucurkan alokasi dana Rp 17 Miliar.
"Komitmen Pusat sebelumnya Rp 15 Miliar, ternyata ditambah lagi Rp 2 Miliar khusus untuk untuk Kecamatan terluar, yakni Pulau Merbau dan Kecamatan Rangsang. Alhamdulillah kita mendapatkan perhatian yang bagus dari Pemerintah Pusat," ungkap Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kepulauan Meranti, Drs Ikhwani.
Ia mengatakan ditambah dengan alokasi yang telah disiapkan Pemkab Kepulauan Meranti dalam pelaksanaan program itu, maka total anggaran PNPM-MPd untuk tahun 2013 ini menjadi sebesar Rp 32 Miliar.
"Jika memang pusat mengalokasikan lebih besar, maka kita akan meningkatkan alokasi PNPM-MPd sesuai dengan anggaran pusat. Artinya jika pusat sanggup mengalokasikan sampai Rp 50 Miliar, maka kita akan mengalokasikan juga sebesar Rp 50 Miliar," terangnya. (rls)
 
Copyright © September, 2012. Marwah Riau - All Rights Reserved
Design by Blogger Inside Inspired by Create Website
Proudly powered by Blogger